Posted by admin 0 Comment

Salah satu program unggulan dari SD Muhammadiyah Bodon adalah Pengajian Rutin Ahad Kliwon, yang mana dihadiri oleh semua Guru dan Karyawan berserta seluruh wali siswa SD Muhammadiyah Bodon.

Dalam sambutannya, Bapak Kepala Sekolah Eko Rusyan Anan P, S,Pd.Si menyampaikan beberapa pencapaian prestasi yang telah diraih siswa-siswi SD Muhammadiyah Bodon dalam bulan November yaitu Juara kedua Marching Band Piala HB Cup DI.Yogyakarta dan Juara kedua Gladi Kawruh tingkat Kabupaten Bantul yang di Bulan Desember akan berkompetisi kembali secara live di TVRI.

Pembicara dalam pengajian ahad kliwon adalah Bapak Drs. H. Marsudi Iman beliau adalah Dewan Pembina Pondok Pesantren As-Syifa dan mengajar sebagai dosen di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Tema yang disampaikan pada pengajian kali ini adalah “5 Amalan Mementingkan Akhirat sebagai Prioritas”

Seringkali ketika ada pertanyaan bagaimana sikap kita di dunia ini apakah mementingkan akhirat, mementingkan dunia ataukah seimbang antara kepentingan dunia dan akhirat? Kebanyakan dari kita tentulah akan menjawab harus seimbang antara kepentingan dunia dan akhirat.

Lalu jika ada pertanyaan kembali, lebih banyak bekal yang mana ketika kita akan pergi ke Giwangan (terminal) dan ke Mekah (naik haji/umrah)? Jika konsisten dengan pertanyaan pertama, mestinya jawaban pertanyaan kedua pun sama yaitu bekalnya seimbang.

Ternyata, bekal keduanya adalah berbeda dan kepentingan akhirat adalah prioritas dibuktikan bahwa bekal ke akhirat harus lebih banyak.

Kenapa?

Allah berfirman  yang artinya “Dan sesungguhnya akhir (akhirat) itu lebih baik bagimu dari permulaan (dunia).”  [QS adh-Dhuha ayat  3]. “Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal.”  [QS al-A’la ayat 17]

Nah, maka mulai saat ini harus mengubah visi menjadi memprioritaskan akhirat daripada urusan dunia.

Lalu, mewujudkan visi tersebut dengan melakukan minimal 5 misi berikut:

(1) melakukan sesuatu tergantung niat. “Amal itu tergantung niatnya” [HR Bukhori] ,

(2) Ibadah yang wajib dikerjakan dengan maksimal. Misalnya ibadah sholat. Merujuk kepada QS al-Mu’minun ayat 1 – 2, “Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu)  orang-orang yang khusyuk dalam salatnya.”

Cara memaksimalkan sholat:  dilakukan tepat waktu, berjamaah di masjid, khusyu .

(3) Amalan/ibadah yang sunah diseriusi jangan disepelekan

Ubah konsep sunnah dari semula mengartikan sunnah sebagai amalan yang jika dikerjakan mendapat pahala; jika ditinggalkan tidak berdosa, menjadi sunnah adalah amalan penting untuk dikerjakan; jika ditinggalkan akan rugi.

Contoh amalan sunnah adalah sholat rawatib 12 rakaat.

“Barangsiapa yang mengerjakan dua belas raka’at shalat sunnah rawatib sehari semalam, maka akan dibangunkan baginya suatu rumah di surga.” [HR. Muslim no. 728]

Shalat sunnah yang 12 rakaat itu:

–      4 rakaat sebelum dzuhur dengan 2 salam,

–      2 rakaat setelahnya dengan sekali salam,

–      2 rakaat setelah maghrib dengan 1 salam,

–      2 rakaat setelah isya dengan 1 salam,

–      2 rakaat sebelum shubuh dengan 1 salam.

(4) Tinggalkan yang tidak bermanfaat.

“dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna” [QS al-Mu’minuun ayat 3]

Perbuatan dan perkataan yang tidak bermanfaat dinamakan laghow. Contoh laghow adalah berlama-lama main HP, atau bermedsos.

(5) Berpikir investatif

1.    Dengan harta

1000 menunjukkan bilangan yang banyak. Orang Jawa sering menggunakan kata sewu. Misalnya pringsewu, sonosewu, sewukutho, lawangsewu, dll. Sewu atau 1000 adalah simbolik yang menunjukkan banyak.

Dalam Al-Qur’an pun menggunakan 1000 sebagai bilangan yang banyak (besar), misalnya lailatul qodr itu lebih baik dari 1000 bulan. Infaq sewu atau seribu. Sejatinya anjuran atau ajaran untuk infaq yang banyak.

2.    Dengan ilmu

Jika bisa membaca al-Qur’an, maka berinvestasilah dengan cara mengajar al-Qur’an. Karena sebaik-baik manusia adalah yang belajar dan mengajarkan alQur’an (hadits). Imam al-Ghazali respek pada profesi guru. “Karena guru membangun multilevel amal sholih.”

3.    Dengan tenaga

Jika tidak atau belum bisa berinvestasi dengan harta dan ilmu, maka berinvestasilah dengan tenaga. Tirulah perilaku dokter Zuhdi. Beliau suka bersepeda dan sholat di masjid yang berbeda. Lalu apa yang perlu ditiru? Ternyata beliau suka membersihkan kamar mandi yang disinggahinya. Membersihkan kamar mandi masjid adalah investasi untuk akhirat dengan tenaga. Ada yang berani meniru?

Pak Marsudi menegaskan bahwa masih banyak amalan lainnya yang dapat menunjukkan atau membuktikan kita mementingkan akhirat selain dari 5 amalan di atas. (masud-red)